Cerpen Islami Terbaru Anugerah Terindah Lengkap

Advertisement
Advertisement
Cerpen islami adalah suatu karya sastra yang dibuat dalam bentuk cerita pendek, di dalamnya terdapat kandungan tentang ajaran agama Islam. Seperti yang kita ketahui cerpen merupakan akronim dari cerita pendek, sebuah cerpen bisa berisi tentang cinta, kisah remaja, ataupun agama. Cerpen islami ini banyak dicari karena biasanya mengandung pelajaran sangat berharga di dalamnya.

Cerpen merupakan karya fiksi atau karangan, meskipun begitu cerpen islami bisa memberikan pelajaran bagi siapa saja yang membacanya. Penulis cerpen ini setidaknya harus paham terhadap ajaran agama islam, dengan begitu maka akan menghasilkan suatu karya sastra cerpen yang berkualitas.

Banyak sekali cerpen islami yang telah dibuat oleh para pengarang cerpen, yang paling banyak adalah cerpen untuk anak muda. Sentuhan-sentuhan kreatif yang muncul pada sebuah tulisan akan mampu mempengaruhi pembaca. Tulisan ini selalu berisi tentang pelajaran mengenai ajaran agama islam, akhlak atau tingkah laku terpuji dan lain sebagainya.
Cerpen Islami
Melalui tulisan penulis bisa mengarahkan pandangan pembaca pada cara menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana kita tahu bahwa tidak ada ajaran agama yang memerintahkan pada kejahatan, begitu pula agama islam. Islam melalui perantara Nabi Muhammad mengajak untuk menjalani kehidupan dengan baik, bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Tema yang diangkat pada sebuah cerpen tidak jauh dari inti ajaran agama islam, yaitu menyampaikan kembali ajaran yang telah dibawa oleh Nabinya. Uniknya dari sebuah cerpen islami adalah menyerukan kebaikan kepada para pembaca dengan cara yang lebih menarik, lebih menyentuh. Pengarang tahu betul pada apa yang disukai oleh anak muda, seruan kebaikan yang disampaikan melalui sebuah cerita jelaslah akan lebih menarik.

Pada dasarnya membuat rangkaian tulisan mudah-mudah susah, disebut mudah karena penulis cerpen hanya perlu membuat alur cerita sendiri, yang menjadi sulitnya adalah menuangkan khayalan alur cerita tersebut pada tulisan. Jelas, diperlukan kemampuan menulis yang baik dan kemampuan ini tidak muncul dengan sendirinya, harus melalui latihan terus menerus.

Cerpen Islami Anugerah Terindah Lengkap Terbaru :

Judul Info
Cerpen Islami 1 - Penuhi Panggilan Allah, Adzan Klik Disini Untuk Membaca
Cerpen Islami 2 - Sistem Kancil Klik Disini Untuk Membaca
Cerpen Islami 3 - Baru Kusadari Ternyata Klik Disini Untuk Membaca
Cerpen Islami 4 -Pagi Yang Cerah Klik Disini Untuk Membaca
Cerpen Islami 5 - Hujan Senja Klik Disini Untuk Membaca

Cerpen Islami 1 - Penuhi Panggilan Allah, Adzan

Salah seseorang teman dekat Ra, Abdullah bin Ummi Maktum yang disebut tunanetra menjumpai Rasulullah SAW sambil berkata “Ya Rasulullah, saya mempunyai seseorang penuntun yang kurang paetuh kepadaku, sedang selama jalan anara rumhku hingga masjid ada banyak pohon-pohon serta duri. Apakah aku diizinkan shalat dirumah? ”

Rasulullah juga tak segera menjawab, beliau balik ajukan pertanyaan pada Abdullah,
“Apakah kau mendengar nada panggilan adzan, ya Abdullah? ” Abdullah menjawab,
“Ya, aku mendengar, ya Rasulullah”
“Kalau demikian, ya Abdullah, sambutlah panggilan Allah itu serta shalatlah di masjid, ” jawab Raasulullah dengan tegas.

Subhanallah, begitu shalat di masjid untuk golongan lelaki sangatlah utama lihat cerita diatas waktu Rasulullah menyuruh Rasulullah supaya terus pergi ke masjid sepanjang mendengar adzan, jadi terlebih untuk beberapa golongan lelaki, sudahkah kalian memprioritaskan sholat di masjid? 

 Kembali Ke Daftar Cerpen

Cerpen Islami 2 - Sistem Kancil

System yang di anut seperti apa?
Rimba?
Di mana yang kuat yang menang?
Atau yang kaya yang berkuasa?
Menurutku, yang sering mendengar tindakan si kancil
Sekalipun mengaplikasikan system rimba,
Bakal ada kancil yang menguasai cerita
Sampai kancil betul-betul mengubah system rimba,
Bukanlah si kancil anak nakal yang suka mengambil timun,
Namun si kancil anak baik yang suka menanam timun
Kembali Ke Daftar Cerpen

Cerpen Islami 3 - Baru Kusadari Ternyata

Suami aku yaitu serorang jurutera, aku menyukai sifatnya yang semulajadi serta aku suka pada perasaan hangat yang nampak dihati aku saat bertumpu dibahunya.

3 th. dalam saat perjumpaan serta 2 th. dalam saat pernikahan, aku mesti akui, bahawa aku mulai terasa letih... capek, argumen-alasan aku mencintainya dahulu sudah beralih jadi suatu hal yang membosankan.menjengkelkan. Aku seseorang wanita yang sentimental serta betul-betul peka dan berperasaan halus. Aku merindui saat-saat romantis seperti seseorang anak kecil yang sentiasa menginginkan belaian bapak serta ibunya. Namun, seluruhnya itu tak pernah aku perolehi. Suami aku jauh berbeza dari yang aku berharap. Rasa sensitifnya kurang. Serta ketidakmampuannya dalam membuat situasi yang romantis dalam perkahwinan kami sudah mematahkan seluruhnya harapan aku pada cinta yang ideal.

Satu hari, aku beranikan diri buat menyampaikan ketentuan aku kepadanya, bahawa saya
kehendaki penceraian. " Kenapa? " Dia ajukan pertanyaan dengan suara terperanjat. " Siti letih, Abang tak pernah cuba memberi cinta yang aku kehendaki. " Dia diam serta termenung selama malam di depan komputernya, terlihat seakan-akan tengah kerjakan suatu hal, walau sebenarnya tak. Kekecewaan aku makin bertambah, seseorang lelaki yg tidak bisa mengekspresikan perasaannya, terlebih yang bisa aku berharap daripadanya? Serta pada akhirnya dia ajukan pertanyaan.

" Apa yang Abang bisa kerjakan buat merubah fikiran Siti? " Aku merenung matanya dalam-
dalam serta menjawab dengan perlahan-lahan. " Siti ada 1 soalan, bila Abang jumpai jawapannya di dalam hati Siti, Siti bakal merubah fikiran Siti ; Kalau, Siti suka pada sekuntum bunga cantik yang ada ditebing gunung serta kita berdua tahu bila Abang memanjat gunung-gunung itu, Abang bakal mati. Apakah yang Abang bakal kerjakan buat Siti? "

Dia termenung serta pada akhirnya berkata, " Abang bakal memberi jawapannya besok. " Hati aku selalu gundah mendengar responnya itu. Esok paginya, dia tak ada dirumah, serta aku menenui selembar kertas dengan coretan tangannya di bawah sebiji gelas yang diisi susu hangat yang bertuliskan... 'Sayangku, Abang akan tidak mengambil bunga itu untukmu, namun ijinkan Abang buat menuturkan argumennya. " Kalimah pertama itu menghancurkan hati aku. Akan tetapi, aku masih tetap selalu mau membacanya. " Siti bisa mengetik dikomputer serta senantiasa mengusik program didalamnya serta pada akhirnya menangis di depan monitor, Abang mesti memberi jari-jari Abang agar bisa menolong Siti buat melakukan perbaikan program itu. " " Siti senantiasa lupa membawa kunci rumah saat Siti keluar, serta Abang mesti memberi kaki Abang agar bisa menendang pintu, serta buka pintu buat Siti saat pulang. "

" Siti sukai jalan-jalan di shopping complexs namun senantiasa tersasar serta ada ketikanya sesat di tempat- tempat baru yang Siti kunjungi, Abang mesti mencari Siti dari satu lot kedai ke satu lot kedai yang lain mencarimu serta membawa Siti pulang ke rumah. "

" Siti senantiasa sengal-sengal tubuh pada saat 'teman baik' Siti datang tiap-tiap bln., serta Abang harus
memberi tangan Abang buat memicit serta mengurut kaki Siti yang sengal itu. " " Siti makin sukai duduk dirumah, serta Abang senantiasa kuatir Siti bakal jadi 'pelik'. Serta Abang mesti membelikan suatu hal yang bisa menghiburkan Siti dirumah atau meminjamkan lidah Abang buat menceritakan beberapa hal kelakar yang Abang alami. "

" Siti senantiasa memandang computer, membaca buku serta itu tak baik buat kesihatan mata Siti,
Abang mesti melindungi mata Abang supaya saat kita tua kelak, abang bisa membantu mengguntingkan kukumu serta memandikanmu. " " Tangan Abang bakal memegang tangan Siti,
menuntun menelusuri pantai, nikmati matahari pagi serta pasir yang indah. Menceritakan
beberapa warna bunga yang bercahaya serta indah bagai cantiknya wajahmu. "

" Namun sayangku, Abang akan tidak mengambil bunga itu buat mati. Kerana, Abang tak mampu lihat airmatamu mengalir menangisi kematian Abang. "

" Sayangku, Abang tahu, ada ramai orang yang bisa mencintaimu makin dari pada Abang menyukai Siti. "

" Buat itu sayang, bila seluruhnya yang sudah didapatkan dari tangan, kaki, mata Abang tak layak untuk Siti. Abang akan tidak menahan diri Siti mencari tangan, kaki serta mata lain yang bisa membahagiakan Siti. "

Airmata aku jatuh ke atas tulisannya serta membikinkan tintanya jadi kabur, namun aku terus berupaya buat selalu membacanya lagi.

" Serta saat ini, Siti sudah usai membaca jawapan Abang. Bila Siti puashati dengan semua
jawapan ini, serta terus kehendaki Abang tinggal dirumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, Abang saat ini tengah berdiri diluar sana menanti jawapan Siti. "

" Puaskah Siti sayangku..? "

" Bila Siti tak senang hati, sayangku... biarlah Abang masuk buat mengemaskan barang-barang
Abang, serta Abang akan tidak menyusahkan hidupmu. Yakinlah, bahagia Abang apabila Siti bahagia. "

Aku terpegun. Selekasnya mata melihat pintu yang terkatup rapat. Lantas aku selekasnya lari membukakan pintu serta melihatnya berdiri di depan pintu dengan muka gusar sembari tangannya
memegang susu serta roti kegemaran aku.

Oh! Saat ini aku tahu, tak ada orang yang pernah menyukai aku makin dari dia menyukai aku. Tersebut cinta, di waktu kita terasa cinta itu sudah beransur-ansur hilang dari hati kita kerana kita terasa dia tidak bisa memberi cinta dalam 'kewujudan' yang kita kehendaki, jadi cinta itu sudah ada dalam 'kewujudan' yg tidak pernah kita pikirkan saat sebelum ini.
Kembali Ke Daftar Cerpen

Cerpen Islami 4 - Pagi Yang Cerah

 MINGGU tersenyum. Pagi yang bening. Langit menyebarkan jubah putih. Seperti gigi-gigi macan yang mati tertumbak. Angin lelap. Debu melesap. Terik. Jemuran dalam waktu relatif cepat kering. Bau asap menyergap.

Kau termangu di depan monitor kotak kecil itu. Ah, apa yang kausaksikan dari dunia-kecil serta kedil itu? Tangan-tangan memanjang. Merengkuh dua atau tiga benua. Dikumpulkan ke pelukan. Muntah. Mesiu menyebar. O, ada tangis. Luka. Anak-anak memandang masalalu-masadepan. Kosong. Di pecahan tembok. Mengintip moncong senapan. Menguping deru tank. Mengangguk-angguk : “satu lagi, seratus lagi. Korban jatuh…”

Penjagal. Algojo bertangan mulus. Putih. Hidung mancung. Tanpan. Tangannya menjangkau. Menjabat semua dunia. Menabur pundi-pundi duit. Dermawan kau… Ah, tak. Kau pemangsa. Nyawa melayang. Melesat seperti meteor. Badan-tubuh lalu jadi kaku.

Telah berapakah kematian disini? Aroma ganja menyebar. Asap mengepul, kita hirup berbarengan. Saya, kau, kalian, mereka, serta kita seluruhnya mabuk. Ply ply…Bawa kemari rencong-rencong itu. Bakal kukibarkan juga seseperti bendera. Bakal kutancapkan ke perut-perut beberapa serdadu.

Ah, tak. Rencong bakal senantiasa kalah cepat dengan senapan. Mereka—para serdadu itu—tak berbilang jumlahnya. Sedang kami? Berapalah orang, berapalah kampung? Sekali dibombardir, habislah kami. Namun, mengapa kami tidak pernah habis-habis?

“Tuhan senantiasa berbarengan kami. Membuat perlindungan anak-anak kami, perempuan-perempuan kami, nyawa kami, kampung kami, tanah-kelahiran kami. Ganja-ganja kami, kebun-kebun kami. Rencong kami senantiasa bergairah buat melawan! ”

Dusta! Manalah mungkin saja kalian dapat melawan. Lihatlah beberapa serdadu, tidak berbilang jumlahnya, seia serta setia setiap waktu buat memuntahkan peluru-pelurunya. Hanya belum waktunya kalian dihabisi. Masih tetap butuh kiat, mengulur-ulur saat, hingga kalian terlelap dalam keceriaan. Kemudian habislah semua kalian, tidak bersisa. juga cinta kalian pada tanah serta air kelahiran ini.

“Bukankah hidup cuma tunda kematian1? Makin tidak bernilai bila merampungkan hidup ini dengan percuma, tidak ada bernilai. Jadi itu, kami harus berjuang buat menjaga tanah kelahiran ini. Begitu juga kami harus berkalang tanah. Telah habis kesabaran kami saat kalian datang kemari lantas membawa semua kekayaan kami. Yang tinggal disini buat kami hanya ampas, taik minyak, ladang-ladang yang kerontang…”

Adakah itu keadilan? Kami yang sudah beratus-ratus tahun melindungi, menyuburkan, serta menyulingnya. Namun, akhirnya kalian bawa. Kalian yang bergelimang harta, kami yang berkalang luka.

Ke mana serta pada siapa kami mengadu? Tengah angin tidak pernah kirim berita nestapa kami. Ke mana serta pada siapa kami mesti melabuhkan duka? Tengah pelabuhan tidak membukakan pintunya? Ke mana serta pada siapa kami bakal turunkan sauh? Tengah pantai tidak ada lagi.

Ya!
Siapa yang pecahkan vas bunga
di pekarangan rumah kita
Walau sebenarnya angin tak menggerakkan daun-daunnya2

*
MINGGU tersenyum. Pagi yang bening. Langit menyebarkan jubah putih. seperti gigi-gigi macan yang mati tertumbak. Angin lelap. Debu melesap. Terik. Jemuran dalam waktu relatif cepat kering. Bau asap menyergap.

Kami pikirkan, minggu-minggu disini bakal senantiasa tersenyum. Tertawa untuk kebahagiaan kami, untuk kedamaian kami, untuk kemerdekaan kami. Namun, yang berlangsung, ketakutan untuk ketakutan menimpa kami. Ingin seperti senantiasa mengintip sela kami. Selangkangan kami tidak henti basah. Airmata kami tidak habis-habis mengalir.

Nada dentuman itu. Nada peringatan itu. Nada ancaman itu. O! Sudah bikin kami makin ketakutan. Oh, tak! Kami tidak pernah takut, bahkan juga pada singa yang buas sekali juga. Ketakutan kami cuma pada Tuhan, pada amarah agama kami, bila kami meremehkan saran jihad-Nya.

Saya pikirkan tidak lagi kudengar
Derap sepatu juga aum serdadu3

Namun, mungkinkah itu? Beberapa serdadu itu saat ini telah membanjiri kota-kota kami, kampung-kampung kami, dusun-dusun kami, rumah-rumah masyarakat kami. Mereka tidak saja meneror, menembaki, juga menggagahi perempuan-perempuan kami.

Alangkah nistanya bila kami membiarkan kebiadaban itu. Alangkah terkutuknya selama hidup bila kami tidak melawan. Jadi kami angkat senjata juga. Kami acung-acungkan rencong-rencong kami serta menusukkan ke perut mereka.

Perlawanan tidak seimbang memanglah. Namun, apakah kami ikhlas teraniaya selama-lamanya? Mana yang makin bernilai jadi orang terjajah selama hidup atau mati dalam arena perlawanan?

Hidup cuma sekali. Darah bakal terus berwarna merah walau kami kalah. Jadi berjihad jadi ukuran perlawanan beberapa orang teraniaya seperti kami. Apa kami bakal senantiasa disetir, dikomandoi, diintimidasi oleh satu kemampuan yang zalim?

Teringat kami pada perjuangan sang Muhammad. Ia demikian gigih, tidak pernah mati kiat serta semangat menegakkan perdamaian. Apa kami mesti lupa pada ghirah suci seperti itu? Tidak. Tidak ada bakal pernah.

Ini tanah air kami. Ini kampung kelahiran kami. Tidak ada yang dapat mengusir kami dari tanah tumpah darah kelahiran kami. Sungai itu sudah menyimpan air tuba kami. Tanah ini yang sudah menanam ari-ari kami. Ranjang ini yang membiarkan basah oleh darah kelahiran kami. Ibu kami yang bersakit-sakit melindungi kelahiran kami.

Wahai saudara kami. Kita bersaudara. Jadi turunkan senjatamu. Kunci pelatuk senapanmu. Beningkan airmuka amarahmu. Mari kita berpelukan. Namun, biarlah kami melindungi tanah kelahiran kami. Pulanglah saudaraku ke tanah kelahiranmu, ke barak-barakmu, percayalah kami dapat memproses semua yang ada di kampung kami.

“Bukankah kau tahu, bumi ini di ciptakan bukanlah buat menyimpan pertumpahan darah? Kita ada lantaran kita diakui juga seseperti khalifah untuk perdamaian semesta, rahmat untuk dunia serta akhirat? ” katamu satu malam.

Kami bakal bakar pohon-pohon ganja. Kami tanam bom-bom kami di ladang-ladang tidak bertuan. Tidak bakal ia meledakkan kota-kota yang riuh. Hotel-hotel yang gemuruh. Tidak ada. Karena janganlah kaumengira kami yang meledakkan bom di keramaian itu, di candi-candi itu, di beberapa tempat hiburan itu. Bukanlah. Kami mempunyai adab yang harus kami jagalah juga seseperti kehormatan.

Namun, senantiasa saja serta senantiasa saja, wajah-wajah kami yang tercantum di media-media kabar berita. Dalam sketsa-sketsa : rekayasa beberapa orang yang membenci kami.

Namun Sinar kami tidak bakal pernah redup. Bulan-bintang bakal senantiasa menyebarkan sinar-Nya tiap-tiap malam. Matahari bakal senantiasa terbit dari dalam jiwa kami, serta bakal terbenam di batin kalian.

Jadi, inilah perjuangan kami. Perlawanan kami. Pengorbanan kami. Jihad kami. Begitu juga diantara kami harus ada yang syahid juga seseperti syuhada. Karena, kami meyakini, seribu kami selalu berlahiran.

Penuhi isi dunia ini. Merahmati semesta ini. Mensucikan alam ini. Menyelamatkan tanah serta langit ini.

Penuhi isi dunia ini. Merahmati semesta ini. Mensucikan alam ini. Menyelamatkan tanah serta langit ini.

Penuhi isi dunia ini. Merahmati semesta ini. Mensucikan alam ini. Menyelamatkan tanah serta langit ini.

seperti Muhammad yang menjadikan satu Timur-Barat-Selatan-Utara. Dari tanah Arab sampai ke Eropa serta Amerika : semesta.

JUMAT tersenyum. Padang yang terbentang. Kami tafakurkan jiwa kami, kami zikirkan semua hidup-mati kami. Dari sini kami mesti mengawali menegakkan kembali tiang-tiang kepercayaan kami yang hampir porak oleh dusta serta fitnah kalian.
Kembali Ke Daftar Cerpen

Cerpen Islami 5 - Hujan Senja

Sore itu handphone yang ku simpan diatas meja belajar berdering sinyal ada pesan masuk. Nyatanya sahabatku naila, bukanlah kalimat utama cuma kata iseng saja. Kubalas sms itu, sampai bonus sms juga tiba. Naila menceritakan seseorang ikhwan di sekolahnya, ya saya serta nila tak satu sekolah, naila ada di propinsi sumsel serta saya di lampung. “namanya fadly raa, ketua rohis di sekolah, rajin sholat, rajin puasa, pendiam juga”, katanya panjang lebar. Salamkan saja ya, ungkapku dalam pesan itu. Adzan magrib bergema selekasnya kulaksanakan perintahnya.

Esoknya pusing telah kepalaku kerjakan pr fisika, pada akhirnya kuputuskan tuk sms sahabatku naila, “gimana salamnya kemaren? ”
“salam balik, tuturnya cin”
Tak tahu setan apa yang sukses membujukku buat meminta no ponsel si ikhwan. Dengan gampang no ponsel itu ku peroleh, dari siapa lagi bila tidak dari naila.

Kuberanikan sms sang ikhwan, basa basi apa modus ya? Saya bertanya satu dari demikian masalah fisika yang tidak ku kenali apa jawabanya. Selang beberapa saat sms itu juga dibalas, ia bertanya siapa saya?, otakku mulai berputar bila saya menyampaikan siapa saya yang sesungguhnya pasti ia bakal menilainya saya juga sebagai wanita gatel atau sejenis akhwat genit, oh Tuhan tak tidak tak, saya juga pilih buat merahasiakan jati diri ku, ku katakan padanya cukup mengenaliku melalui tulisan hingga saat yang pas bila Tuhan berkehendak tuk mempertemukan saya serta dirimu. Ia juga dapat terima apa yang ku sampaikan itu.

Satu senja, saat hujan tiba membasahi bumi tanpa ada sedikit juga diiringi petir maupun kilat, kupandang butir-butir hukan itu seperti tangis rindu bakal bumi yang sudah lama tidak tersentuh airnya, ponsel yang sedari tadi kupegang, sms fadly mendarat di ponsel ku, “jika satu waktu ku dapatkan engkau juga sebagai seseorang dari kaum wanita, bolehkah saya menyukai serta menyangimu karena itu. Apabila engkau seseorang dari kaum pria bolehkan saya menjadikanmu seseorang sahabatku”, sudah pasti ku balas dengan kata bisa saja. Mulai sejak waktu itu kerap sekali saya lakukan tindakan bodoh yang di kenal orang dengan nama smsan.

Satu saat kutemukan satu pelajaran baru yang belum ku tahu pada awal mulanya, intinya smsan dengan seseorang ikhwan yang bukanlah muhrim sama juga dengan zina, terkecuali bila menekan serta sangat utama, astagfirullah apa yang kulakukan sampai kini, dengan sigap ku kirim pesan pada akhi fadly perihal apa sajakah yang baru ku kenali serta nyatanya ia juga baru tahu hal semacam itu dariku. Oh anak SMA oh anak SMA, ilmunya tidak tebal sekali. Mulai sejak waktu tersebut kami hentikan komunikasi diantara kami.

Bln. berlalu th. bertukar, Pagi yang cerah dengan semangat yang teramat mendaratlah pesawat yang ku tumpangi dari yogyakarta menuju palembang, sesudah S2 UGM bisa kuraih, saya mau kembali pada tanah pempek yang sudah lama kutinggalkan, rindu memburu pada teman dekat sahabat waktu di smp dahulu, serta lumayan dorongan hasrat teramat bersua dengan ikhwan yang dahulu pernah ku kenal melalui sms. Dari palembang menuju prabumulih saya pilih pergi dengan bus, sesampainya segera saja saya menuju rumah sahabatku naila, naila memelukku erat air mata juga membanjiri ke-2 mata kami. Saya mengungkapkan apa yang ku mau pada sahabatku, besok ia berjanji bakal mengantarku ke rumah akhi fadly.

Tidak secerah pagi tempo hari matahari pilih bersembunyi dibalik awan, tidak menaklukkan apa sebagai maksud kami, welcome to akhi fadly, terbalik kelihatannya, tidakkah si ikhwan yang mengawali, oh no.

Ku ketuk pintu, ku ucap salam berbarengan dengan naila, tidak lama pintu di buka, munculah seseorang ikhwan dari balik pintu, sepintas ku tatap serta kembali kutundukkan pandangan. “silahkan masuk” ucapnya. Saya serta naila juga masuk, ruang itu simpel akan tetapi rapi serta unik menurutku. Segera saja ku katakan apa yang sampai kini mengendap di hati serta otaku. “subhanallah, insha Allah ana siap jadi imam anti”, ucapnya, detak jantung serta gemetar yang ku tahan sendari tadi juga perlahan-lahan mereda, lirih kuucap alhamdulillah
Kembali Ke Daftar Cerpen

Agama kita selalu mengajarkan kebaikan-kebaikan yang dapat bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri saja, melainkan untuk lingkungan disekitar kita. Semua itu dituangkan dengan kreatifitas para pembuat cerpen islami lengkap terbaru untuk memberikan inspirasi, sentuhan jiwa dan juga renungan untuk kita sebagai para pembaca.

Advertisement