Cerpen Cinta Menyentuh Dalam Paling Hati 2016

Advertisement
Advertisement
Cerpen cinta merupakan cerita pendek suatu cinta, cinta dalam cerpen merupakan suatu karangan atau juga bisa cerpen hasil dari suatu kisah seseorang yang sedang mengalami dilema cinta. Cinta tidak hanya dikaitkan dalam kegembiraan saja, melainkan cinta juga dapat dialami ketika dalam kondisi galau, gundah gulana yang menyayat hati.

Cerpen ini adalah suatu karangan cinta yang dapat dilakukan ketika anda ingin membuat suatu karangan cinta dalam hal tersebut cinta yang merupakan anugrah yang paling terindah dalam hidup, itu merupakan kata-kata yang sering kita dengar dalam kata-kata cinta. Itu hanya salah satu contoh yang biasa kita dengar mungkin dari pacar, sahabat ataupun siapa saja yang membacanya.

Cerpen disini merupakan cerita pendek dari suatu kisah cinta, mungkin cerpen ini terdiri dari beberapa karakter kata saja antara yang disajikan sangat pendek tapi tidak bertele tele sehingga cerita ini disebut dengan cerita pendek. Cerita singkat tetapi dapat memfokuskan dan memberikan kandungan yang tersirat pada cerita tersebut.
Cerpen Cinta
Cerita pendek cinta menceritakan perjalan cinta yang mencakup beberapa karakter cinta diatanranya cinta yang sedang gembira cinta sedih atau cinta yang sedang menyakitkan, banyak sekali cerpen yang di buat oleh orang dengan hanya bertujuan iseng atau menjadikan suatu karya. Hal ini tidak terlepas dari semua kehidupan yang kita jalani dengan seseorang yang kita cintai.

Cerpen ini tidak hanya untuk dibuat sekedar cerpen saja terkadang orang membuat cerpen menceritkatan dirinya sediri yang memang sedang dilanda cinta tetapi juga ada orang yang membuat cerita pendek dengan sebuah karangan fiktip yang berarti dia membuat cerpen cinta hanya karangannya sendiri yang ceritanya memang tidak nyata.

Bagi anda yang senang dengan cerpen cinta berikut adalah cerpen yang sengaja kami buat yang bertujuan agar kalian yang bisa membaca atau menjadi suatu referensi dalam pembuatan suatu cerpen atau bahakan hanya sekedar membaca saja. Dibawah ini merupakan beberapa contoh cerpen cinta yang dapat dibaca ataupun diluapkan terhadap orang yang kalian cintai.

Cerpen Cinta Dalam Hati Terbaru 2014 :

Judul Info
Cerpen Cinta 1 - Tak Bisakah Dia Romantis Klik Disini Untuk Membaca
Cerpen Cinta 2 - Cinta Yang Tak Terucap Klik Disini Untuk Membaca
Cerpen Cinta 3 - Cinta Dan Persahabatan Klik Disini Untuk Membaca
Cerpen Cinta 4 - Cinta Butuh Ruang Klik Disini Untuk Membaca
Cerpen Cinta 5 - Pria Bernama Jio Klik Disini Untuk Membaca

Cerpen Cinta 1 - Tak Bisakah Dia Romantis

Gerimis malam itu masih tetap saja belum reda. Yunita tetap harus menunggu berhentinya kereta api di stasiun Gambir, menanti kepulangan Ulul yang senantiasa dia nantikan nada lembutnya. Dia sangatlah rindu pada rekannya serta rindu itu di rasa sangat menyekam sesudah hampir setahun ini mereka terpisah pada jarak. Ulul berkuliah di yogyakarta sedang Yunita sendiri melanjutkan kuliahnya di Jakarta.

Kereta api telah berhenti serta penumpang berhuyung-huyung turun. Matanya repot mencari Ulul di antara kerumunan orang berlalu-lalang. Akan tetapi sayang tidak dia temui Ulul disana. Janjinya buat datang menjumpai Yunita di rasa cuma janji belaka. Kesetiaannya menunggunya di stasiun sepanjang dua jam berlalu demikian saja. Sangat dingin diarasa hawa malam itu, namun hati dialah yang makin rasakan dingin. Mimpinya yang waktu itu bakal dia rasakan pelukan hangat Ulul terasanya melayang jauh berbarengan sepinya stasiun.

Yunita masih tetap saja berdiri termangu. Matanya telah basah bakal air mata, menahan gejola hati yang semakin membara.
“Hai…lama ya nunggu aku” ucap seorang lembut.
Yunita berbalik arah. Matanya melotot terperanjat lihat Ulul sudah berdiri di depannya seraya tunjukkan senyum manisnya. Yunita cuma tersenyum haru serta semenit lalu dia selekasnya merangkul Ulul, melepas kerindukannya pada Ulul sampai kini.
“Kamu membuatku hampir menangis Lul” ucap Yunita di sela isakan tangisnya.

“Bukan hampir namun memang telah kan? ” canda Ulul. Yunita memukul kecil dada Ulul. Terasa haru sekalian bahagia. Abim cuma tertawa kecil serta mendekapku erat.
“kita pulang yuk.. ” ajak Ulul.

Yunita termangu sebentar. Kecupan lembut yang demikian dia rindukan tidak dia temui waktu itu. Sikap Ulul yang selau kaku terus dia temui walau sudah setahun mereka terpisah pada jarak. Ulul tidaklah jenis cowok romantis. Ulul yaitu cowok tegas serta bijaksana yang tidak pernah memberikannya belaian lembut terkecuali dengan canda serta leluconnya. Akan tetapi demikian Yunita senantiasa sayang serta cinta dia.

Dia sendiri meyakini bahwa Ulul lumayan mencintainya. Buktinya sepanjang makin tiga th. mereka pacaran tidak sekalipun Ulul menyakiti Yunita. Ulul selau membuatnya tertawa di antara nada-nada humornya. Sepanjang mereka pacaran hanya sekali Ulul mencium Yunita saat ia lagi th. serta itupun lumayan di kening.

“Heh.. kok ngelamun sih, pulang yuk. ” Kata Ulul mencengangkan Yunita. Yunita mengangguk pelan serta membiarkan Ulul menggandeng tangan Yunita. Ada yang janggal waktu itu dirasakannya. Ya.. Ulul ingin menggandengnya.

Satu jam sudah berlalu percuma. Ulul tidak kunjung datang malam itu sesuai sama janjinya buat menjumpai Yunita di taman. Yunita cuma sabar menanti walau tiap-tiap menit malam itu dia rasakan penuh dengan rasa iri saat lihat pasangan yang lain tengah memadu kasih. Romantis sekali. Dia jadi teringat bakal kalimat Ikfi tadi siang yang bikin perasaannya bimbang.

“menurut ku pacaran tanpa ada belaian serta ciuman itu seperti makan tanpa ada lauk, kurang komplit. ” Ceplos Ikfi memberi komentar Yunita saat ia menceritakan perihal sikap Ulul sepanjang mereka pacaran. Mendengar komentar Ikfi, Yunita cuma tertunduk.
“Coba anda pikir sepanjang anda pacaran apa yang telah Ulul kasih ke anda. Hanya kasih sayang? Itu kurang non, apa anda layak senang dengan merasakan kasih sayang itu serta apa anda telah pernah bisa bentuk dari kasih sayang itu? ”

“maksud mu? ”tanyaku tidak tahu.
“misalnya bila dia apel dia ngasih setangkai mawar untuk kamu atau sekurang-kurangnya dia mencium kening mu juga sebagai ungkapan dia sayang serta cinta sama kamu”
“Ulul memanglah tak pernah mengerjakannya Fi…” kata Yunita datar.
“Lha selalu mengapa anda kerasan. Cowok tidak romantis gitu mengapa masih tetap anda pertahankan. Dapat makan ati tahu tidak! Boro-boro anda dibelai, dipegang saja tak. Berdasarkan ku cowok bagai itu tak dapat menghormati makna cinta. anda benda hidup Yun, yang terkadang lumayan mau disentuh, namun sayangnya anda bego bila mesti ikhlas menyerahkan hati mu pada dia. ” ucap Ikfi panjang lebar yang senantiasa mengiang-ngiang di telingaku.

“Apa benar kata Ikfi? Entahlah saya sendiri tidak tahu. Terkadang saya sendiri pernah berpikir apa benar Ulul mencintaiku, lantaran sampai kini Ulul tidak sekalipun membelaiku saat dia apel. Hatiku betul-betul sakit mengingat itu seluruhnya. Ulul tidaklah jenis cowok romantis yang selau kuimpikan, Ulul yang selau berlaku umum apabila bersamaku serta anehnya seluruhnya itu kujalani demikian saja sepanjang tiga th. makin, bukanlah saat yang singkat memanglah, karenanya saya senantiasa berupaya menepis jauh-jauh kegundahanku masalah cowok romantis.

Namun tak dengan malam itu. Ketidaksabaran Yunita menanti Ulul yang molor datang bikin dia makin meyakini bila Ulul tak menyayanginya maupun mencintainya. Jalinan itu cuma untuk jalinan berstatus pacaran namun tanpa ada cinta. Walau tiga th. waktu lalu Ulul resmi mengikrarkan cintanya pada Yunita.

“Kamu lama ya menugguku? Maaf mobilku mogok tadi” kata Ulul hentikan kemauan Yunita yang mau meniggalkan taman waktu itu lumayan.
“Tidak ada argumen lain? ” Bertanya Yunita sinis. Ulul memandang dia dengan janggal.
“Kamu geram Ta? ”, bertanya Ulul datar.
Yunita cuma acuh tidak acuh. Yunita mau tahu bagaimanakah reaksi Ulul bila lihat dia geram. Yunita mau Ulul tahu apa yang dia iginkan, jadi cowok romantis tersebut mimpinya. Tak bagai waktu itu. Yunita serta Ulul duduk dalam jarak 1/2 mtr.. Tak dekat serta mesra-mesraan bagai pasangan lain malam itu.

“Ta maafin saya, namun mobilku memang tadi mogok. ”
“Kamu kan dapat telephone atau sms saya Lul, bukanlah lewat cara membiarkanku menuggumu seperti gini. ”
“Aku lupa bawa Ponsel Ta. ”, ucapnya pelan. Saya terus tidak menghiraukannya.
“Kamu tahu tak Lul, malam ini saya makin meyakini bila anda memanglah tak pernah serius mencintaiku” tutur Yunita tersendat.
“Ta mengapa anda bicara bagai itu. Apa anda sangka sepanjang tiga th. makin kita pacaran saya cuma iseng saja. Saya pikir anda dapat memahami perihal saya, namun nyatanya…”

“Ya saya memanglah tak memahami perihal anda. Anda yang kaku serta beku apabila di sampingku yg tidak pernah membelaiku serta mengatakan kalimat-kalimat indah di telingaku. Anda yang hanya sekali mencium serta berkata saya cinta anda. Anda yg tidak memberiku perhatian-perhatian romantis sampai kini. Anda.. anda Lul membuatku muak dengan seluruhnya ini”, kata Yunita dengan suara tersendat.

Mata Yunita sudah tergenang air hangat serta dia sunguh tak mampu lagi membendungnya.
“Jadi anda pikir cinta hanya dapat disibakkan dengan keromantisan Ta, anda sangka apa hubunga kita terjalin tanpa ada rasa apa-apa dariku? ”, bertanya Ulul.
Yunita masih tetap terdiam bisu dalam tangisnya.
“Ta.. sampai kini saya menduga anda telah tahu banyak perihal saya, namun nyatanya saya salah. Anda bukanlah Yunitaku yang dahulu.. ”
“Kamu memanglah salah menilainya saya serta akupun lumayan salah menilainya anda. Menilainya perihal hatimu serta perihal cintamu sepanjang ini”
“Perlu kamu paham.kamu mengerti Ta saya sangatlah mencintaimu serta sayangnya rasa cintaku ini mesti anda tuntut dengan keromantisan”

“Aku tak punya maksud menuntut Lul, saya hanya mau jalinan kita indah bagai orang lain”
“Wujud dari keindahan itu bukanlah terdapat pada keromantisan Ta namun terdapat pada cinta tersebut. Saya tak pernah membelai serta menciummu lantaran saya menghormati cinta kita. Saya tidak mau jalinan kita jadi ternoda dengan beberapa hal yang diawali dari belaian maupun ciuman. Saya sayang anda serta dengan tersebut saya dapat tunjukkan seberapa dalam saya mencintaimu”
Dada Yunita berdesir saat itu juga. Selekasnya dia tatap mata teduh Ulul.

Di sana ia temui keteduhan cinta serta kasihnya.
“Ta…jika anda anggap cinta hanya dapat dinyatakan dengan sentuhan-sentuhan keromantisan itu salah. Cinta bukan hanya itu saja. Yang terutama yaitu bagaimanakah kita dapat melindungi jalinan suci itu terus suci hingga kita betul-betul terikat pada jalinan yang halal. Sampai kini saya sangka anda dapat mengrti itu seluruhnya. Namun saya salah serta buat itu saya mohon maaf bila saya tak dapat jadi bagai apa yang anda mau”

“Lul saya hanya.. ”, ucap Yunita tidak terteruskan.
Ada rasa sesak yang keluar demikian saja di hatinya. Yunita sudah melukai Ulul serta itu dapat ia saksikan dari kalimat datarnya.
“Kamu tak salah Ta dalam soal ini. Serta sepautnya saya melepaskanmu malam ini, membiarkanmu mencari cowok romantis bagai harapanmu. Janganlah anda sangka saya tak pernah mencintaimu, karenanya membuatku terluka. Jujur sepanjang hidaupku saya tak pernah pikirkan gadis lain terkecuali dirimu”

Bersaman kalimat itu Ulul berlalu meninggalkannya. Entah…kenapa bibir Yunita tidak dapat menghindar langkah Ulul. Seluruhnya ia rasa seperti mimpi. Cuma dengan satu kekeliruan ia buat seluruhnya selesai dalam waktu relatif cepat. Air matanyapun telah mengalir deras. Semestinya ia bangga mempunyai Ulul yg tidak pernah neko-neko. Semestinya saya tak dengarkan pendapat-pendapat Ikfi perihal cowok romantis. Semestinya saya tak bikin Ulul terluka waktu itu.

Kereta api di stasiun Balapan telah pergi dua menit sesudah ia tiba disana. Yunita lari ke sana-kemari memanggil-manggil nama Ulul dari jendela satu ke jendela lain. Akan tetapi usahanya itu tanpa ada hasil. Kereta api dengan perlahan-lahan sudah membawa Ululnya serta lumayan cintanya pergi jauh. Yunita berdiri terpaku lihat kereta api yang semakin menjauh. Sesalnya menumpuk. Yunita datang terlambat sampai tak pernah menyampaikan maafnya pada Ulul.

Saat ini Yunita mulai sadar bahwa tak ada yang makin dapat membahagiakannya terkecuali dengan hadirnya Ulul. Bagaimanapun dia, romantis maupun tak dialah orang yang betul-betul ia cintai. Kenangan-kengan indah bersamanya walaupun tanpa ada kemesraan waktu itu membelainya dengan rasa yang teramat. Asanya sudah pergi serta itu hanya dapat ia kerjakan dengan menangis terpaku di tempatnya berdiri. Hidupnya tidak ada makna tanpa ada Ulul, dengan mencintainya apa yang ada itu telah makin dari layak. Tak ada lagi tuntutan buat dia beralih jadi Ulul yang romantis. Rasa sesal sudah membuatnya menaruh keinginan maaf buat Ulul.

Kembali Ke Daftar Cerpen

Cerpen Cinta 2 - Cinta Yang Tak Terucap

Satu tahun berlalu serta bayangmu makin membuatku jatuh dalam fakta ini. Rasa sakit yang menggelayuti hati, merangkul badan yang rindu bakal senyummu. Sosokmu yang dahulu ada perlahan-lahan menghampiriku dengan hangat serta menyemaikan benih cinta di ladang hati yang gersang ini.

Tidak kusangka saya demikian menyayangimu….!!!

Namun sekarang ini, nada tawamu sesakkan jantugku. Tatap matamu bekukan badanku. Caramu bicara teteskan air mataku. Inilah yang kurasakan padamu sekarang ini. Kau beralih jadi sosok yang demikian dingin, sosok yang tidak menganggapku ada. Walau sebenarnya dahulu kau yaitu makhluk terhangat yang pernah kutemui, senantiasa ada di sampingku, walau kau bukanlah milikku. Apa yang membuat kamu demikian beralih? Apa salahku?

Pada akhirnya, rasa penasaran serta serba salah yang saya rasakan. Saya rindu bakal tawamu yang dahulu, saya rindu bakal candamu dahulu, saya rindu dengan tingkah konyolmu saat itu.

“Hey… janganlah melamun terus…!!! ” kata Shely membuyarkan lamunanku.

“Apaan sih, kaget tau…” dengan sedikit terlonjak saya memukul bahu sahabatku itu.

“Aduh, ” tuturnya mengerang kesakitan. “Kamu sih, sadar tak anda tengah ada dimana? ” kalimat Shely yang segera bikin badanku membeku. Nyatanya dari tadi saya masih tetap berdiri di depan pintu kelas dengan tatapan kosong, tanpa ada lakukan apa pun.

“Oh, my God… bodoh banget. ” Sembari menyentuh kening, saya terasa begitu bodohnya saya waktu itu.

“Hey Vey, lagi ada permasalahan ya? Saya saksikan dari tempo hari anda murung selalu. Ada apa? Narasi dong!! ” tuturnya yang segera ke inti perbincangan yang paling kuhindari sekarang ini.

“Emh, tidak ada apa-apa. Beneran. ” Kataku dengan nada yang terdengar lemah.

“Okey, masuk yuk” ajaknya “Lain kali janganlah berdiri melamun bagai ini lagi, okey! ” sembari mengacungkan jari-jarinya ke dahiku.

“Okey…!!! ”

Walau saya tidak pernah bercerita pada sahabatku ini, namun dia tahu serta tahu bagaimanakah mesti berlaku. Saya yaitu orang yg tidak sukai didesak buat bercerita, bila saya sendiri tidak menginginkannya. Telah satu minggu makin saya jadi sedikit hilang ingatan dengan situasi ini. Telah beribu langkah serta argumen kupikirkan apa yang membuatnya beralih bagai saat ini. Apa salahku? Beribu kali kuberpikir, tidak pernah kutemukan jalan keluarnya.

Teet….!!!!! Teet…..!!! Teet….!!!

Bel sekolah berdering nyaring memekakkan telinga bagai umumnya. Namun kelas hari ini masih tetap demikian sepi, cuma segelintir orang yang baru masuk kelas. Jam pertama yaitu kelas seni, serta buat itu, saya sudah mempersiapkan gitar buat presentasi menyanyi pagi ini. Nama untuk nama bergilir, sampai guru seni menyebutkan nama Venus Putri Tunggadewi. Saya terperanjak, 1/2 kaget. Dengan cepat saya kuasai kegugupanku, walau saya tak terlampau pandai menyanyi, namun saya bakal berupaya sekuat tenaga menyanyi dengan sepenuh hati.

“Hey seluruhnya, saya bakal menghadirkan suatu lagu dari Avril Lavigne, yang berjudul Fall the Piece. Enjoy it…”

Dengan pelan, saya mulai berdendang dengan diiringi cuplikan gitar akustik yang kubawa tadi. Dalam hati, lagu ini kupersembahkan untukmu yang ada di sana. “Yudha, sosokmu yang duduk di bangku paling belakang, lagu ini untukmu”. Batinku.

…. I don’t want to fall the pieces. I juicet want to sit and stare at you. I don’t want to talk about it.

…. And I don’t want a conversation. I juicet want to cry in front of you. I don’t want to talk about it. ‘Cause I’m in love with you……

Sepintas, saat sebelum betul-betul mengakhiri lagu ini, saya lihat tatap matanya tertuju padaku. Buat sebentar mata kami bersua, mata itu, mata yang kurindukan. Kenapa kau menatapku bagai itu? Kenapa kau menampakan muka yang penuh rasa sedih yang sama denganku? Kenapa kau menjauhiku? Batinku terkoyak dengan fakta yang tidak dapat kumengerti.

“Tepuk tangan buat nada lembut dari Venus. ” Terdengar nada guruku diikuti dengan tepuk tangan rekan-temanku. “Next, saat ini giliran Yudha Arifa Hutama. Please perform your performance. ”

Dari tempat dudukku, saya coba mengolah tiap-tiap suara serta syair yang dia nyanyikan, demikian indah, terlampau indah sampai membuatku meneteskan air mata. Namun, saya selekasnya menyekanya serta memberi tepuk tangan buat Yudha.

***

Pelajaran hari ini usai telah. Waktunya buat mengepak barang-barangku, serta siap buat pulang. Namun mendadak dua gadis konyol menariku bangkit serta membawaku dengan paksa buat mengikutinya. Yah, siapa lagi bila bukanlah Shely serta Lani teman dekat yang paling bodoh serta konyol yang pernah kutemui.

“Eh eh.. saya ingin dibawa ke mana nih? ” Tanyaku penasaran.

“Diam serta turut saja. ” Kata Lani padaku. Kulihat Shely mulai menstarter motor matic-nya.

“Ayo naik!! ” suruh Shely. Dengan masih tetap membawa gitar akustik ditanganku, saya menuruti saja kata rekanku yang satu itu.

“Tapi motorku? ” tanyaku memelas dengan nasib Ms. Red yang bakal ditinggal demikian saja di parkir sekolah.

“Sini saya yang bawa. ” Tawar Lani sembari mengulurkan tangannya ke arahku. Waktu itu lumayan ku lemparkan kunci Ms. Red pada Lani.

Dengan suka hati saya ikuti tekad sahabat-sahabatku ini. Lalu saya mulai tahu, dimana mereka bakal membawaku, jalan ini menuju ke arah rumah Shely. Namun yang membuatku heran, kami selalu melaju walau sebenarnya rumah Shely sudah teratasi sebagian menit waktu lalu. Nyatanya saya dibawa ke danau yang ada di dekat tempat tinggalnya. Wow… amazing. Batinku.

“Nah sampai…. ” Kata Lani “sekarang katakan seluruhnya masalahmu pada kami! ” pintanya.

Ragu-ragu saya buat menceritakan seluruhnya. Namun apalah berarti seseorang teman dekat, bila kau tidak ingin sharing dengannya. Lalu, saya mulai menceritakan seluruhnya.

Hari itu, hari paling akhir yang kami alami berbarengan, hari dimana saya kehilangan sosok yang adem untukku bertumpu. Saat itu, buat demikian kalinya saya bakal diantar pulang oleh Yudha. Di jalan, mendadak rekan-temannya datang, mereka hampiri kami, dengan tatapan penasaran, mereka memandangku lekat-lekat. Waktu itu lumayan Yudha segera menyuruhku pulang dengan tatapan geram bercampur menyesal. Mendengarnya, saya cuma dapat berdasarkan saja, serta dari jauh saya lihat sosok Yudha yang tengah dikerumuni oleh rekan-temannya. Dia coba menuturkan suatu hal, namun saya tidak tahu apakah itu.

Malamnya dia kirim pesan singkat ke hpku. “Maafkan aku” tulisnya. Mulai sejak waktu itu Yudha tak pernah bicara padaku bahkan juga lewat hp-pun tak pernah. Genap dua minggu mulai sejak peristiwa itu, serta di antara kami tak ada pergantian. Saya telah bagai orang hilang ingatan dibuatnya. Saya selalu pikirkan apa salahku, apa sesungguhnya salahku padanya. Namun tidak ada kata yang layak buat menuturkan seluruhnya.

Di lebih lagi, saya tidaklah pacarnya. Tak ada kata cinta diantara kami. Kami cuma sepasang rekan yang adem bila kami berdua berbarengan. Bila salah satu dari kami tidak ada, kami terasa bagai kehilangan separuh sisi dari badan kami, yang pasti tersebut yang sekarang ini kurasakan.

Jujur, saya tidak mempunyai layak keberanian buat bertanya seluruhnya. Saat ini yang ada di antara kami cuma “diam, diam, serta diam” tanpa ada menegur serta bicara keduanya. Saya rindu dengan Yudha yang dahulu. Yudha yang senantiasa bercanda denganku.

“Parah, mengapa tidak narasi dari tempo hari. Bila tahu begini, kami telah bantuin dari dahulu. ” Kata Shely sembari bangkit dari tempatnya duduk. Lani yang dari tadi melempar batu ke arah danau cuma dapat menggeleng-geleng tidak yakin.

“Selama ini kaliankan deket banget, namun mengapa dia tega berbuat bagai ini. Memangnya anda salah apa? ” kata Lani padaku.

“Entahlah… Apa saya membuatnya malu di depan rekan-temannya? ” tanyaku.

“Malu mengapa? Siapa sih yang akan malu bila bersamamu? Pasti orang itu telah tak waras. ” Tuturnya sembari menggodaku.

“Kenyataannya dia tega membuatku bagai ini. ” Kataku

“Kalau itu, saya tidak dapat menjawabnya, mendingan kau bertanya sendiri segera ke orangnya. ” Kata Lani

“Kau itu bodoh atau apa sih? Bila berani, telah dari dahulu saya ajukan pertanyaan. ” Kataku sarkatis yang tidak dapat terima begitu bodohnya rekanku ini.

“Oya ya” tuturnya sembari menggaruk belakang kepalanya yg tidak gatal.

“Bodoh…!!! ” kataku.

Jreng…Jreng…Jreng…Suara gitar akustik mencengangkan saya serta Lani, dengan muka yang serius Shely memainkan gitarku buat memecahkan situasi. Kami juga terlarut dalam alunan melodi yang dimainkan oleh Shely.

“Let’s go home. ” Kata Shely, dia mengajak kami berdua pulang, lantaran hari telah sore. Kulirik arlojiku memberikan jam lima sore. Kami bertiga bangkit dari tempat duduk kami, serta beranjak pulang.

“Vey, saya mempunyai gagasan. ” Tuturnya yang lalu berbisiki-bisik dengan Lani.

“Apa..? ” tanyaku penasaran.

“Liat saja besok. ” Tuturnya yang makin membuatku penasaran.

“Sialan…. ” Lani serta Shely cuma tertawa terkekeh mendengar umpatanku

***

Siang ini, waktu pelajaran bakal selesai, Lani serta Shely bergegas membereskan barang-barangnya buat pulang. Cepat-cepat sekali, batinku. Pas waktu bel berbunyi tiga kali, sepasang gadis ini segera lari keluar kelas.

“Tunggu….!!! ”teriakku lantaran saya sudah ditinggalnya. “Ada apa sih, konyol.. ” saya bergumam sendiri lantaran jengkel, serta mereka sekalipun tak melihat waktu saya berteriak.

Dengan sedikit terburu-buru, saya coba menguber ke-2 rekanku itu. Namun, dari terlalu jauh, kulihat Shely serta Lani tengah bercengkrama dengan orang yang semingguan ini sudah membuatku hilang ingatan. Ya, siapa lagi bila bukanlah Yudha. Orang yang demikian kusayangi, serta paling tidak kumengerti. Damned!! Batinku.

Perlahan, saya jalan mendekati mereka. Detak jantungku makin lama makin cepat bersamaan dengan jarak yang makin dekat. Samar-samar saya mulai dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Mereka tengah mengulas saya.

Dari tempat ini, saya ingin Yudha tidak dapat melihatku. Saya mau sekali mendengar pembicaraan mereka. Yang bermakna saya mesti menguping, namun objeknyakan saya. Tidak apalah.

“…Kau mengapa Yud? Apa salah Venus? Tega anda ya? ” Terdengar nada Shely yang makin bikin jantungku lari marathon. Sampai kini, inilah hal yang mau saya tanyakan. “Apa salahku? Mari Yud jawab! ” Batinku.

“…Venus ngak salah. Saya yang salah” kata Yudha.

“…Lalu? ”

“…Ngak ayah. ” Terdengar nada Yudha yang melemahah.

“…Apa kau tak kasihan dengan Vey. Huh!! Sampai kini anda itu sayang tidak sih sama Vey? ” terdengar nada Shely yang mulai meninggi.

“…Apa masalahnya denganmu. Saya peringatkan ya. Ini tak ada hubungan dengan Venus. Ini masalahku. Permasalahan si pengecut ini. ” Terdengar nada Yudha yang sontak membuatku terperanjat.

“Pengecut” memanglah apa hubungan. Memangnya apa yang sudah dikerjakan Yudha. Tidak tahan lagi, saya beranjak dari tempatku serta hampiri mereka.

“Yudha…” kataku.

Saat itu Yudha segera melihat serta menempatkan muka cemas. Dia tidak pernah menduga bakal ada saya di tempat ini.

“Vey…. ” Tuturnya pelan sampai terdengar bagai berbisik.

“Aku cuma mau ajukan pertanyaan? Kuharap kau jujur. ” Kuberanikan diri buat menanyakannya. Saya mau selekasnya mengakhiri kegelisahan ini.

“Aku ingin saya bisa” tuturnya yang segera mengalihkan pandangannya, yang kelihatannya tidak mau lihat mataku.

“Kamu mengapa? Mengapa anda jadi begini? Saya salah apa? Bila saya salah, saya mohon maaf. Namun janganlah bagai ini. Jujur, saya tidak kuat. ”

“Maaf Vey… anda tidak salah. Saya yang salah. Maaf ya. ”

“Tapi kenapa…? ” kurasakan mata ini makin panas, makin lama pandanganku makin kabur. Kemudian saya terasa air mata ini sudah membasahi pipiku. Dengan sigap, Yudha mengulurkan tangannya serta membelai rambutku.

“Aku tidak tahu kau demikian terluka. Saya cuma tidak mau rekan-temanku mengincarmu, saya tidak mau mereka salah kira dengan kita. Maaf ya…” tuturnya lembut sembari menentramkan saya. “Kau tahu, telah demikian lama saya bersamamu, satu hari tanpamu sungguh membuatku hampa Vey…! ” lanjutnya.

“Kau baru sadar! saya telah satu tahun waktu lalu, kau tahu…” kataku sembari menyeka air mataku.

“Setahun? Apakah benar? Maaf ya. Saya tidak tahu. ” Tuturnya salah tingkah. “Kenapa baru katakan saat ini? ” lanjutnya sembari menggoyang-goyangkan pundakku.

“Aku malu. Saya ini wanita, saya cuma dapat menanti hingga kau mengatakannya. Namun, saya bahagia sampai kini dapat bersamamu tanpa ada mengatakannya. ” Ujarku.

Mendadak Yudha menarik badanku ke pelukannya, dalam dekapannya dia mengatakan cinta. Namun sekarang ini kata itu tidak utama lagi bagiku, yang terutama yaitu saya serta Yudha telah berbaikan bagai dahulu, bahkan juga makin dari dulu

“Heemh…. Janganlah lupakan kita. Kami masih tetap di sini rekan” kata Shely serta Lani yang sontak membuatku serta Yudha kaget serta malu, lantaran hampir saja melupakan makhluk dua itu yang sedari tadi lihat kami. Mungkin saja dalam benak mereka berdua, mereka tengah melihat dramaqueen. Saya ingin tak. 
Kembali Ke Daftar Cerpen

Cerpen Cinta 3 - Cinta dan Persahabatan

Terik panas masih tetap menyengat, meskipun saat telah mendekati sore. Akan tetapi tidak bikin manusia-manusia di Ibukota berhenti melakukan aktivitas walau dibawah sinar matahari yang dapat membakar kulit. Jalan-jalan macet bagai umumnya. Dipenuhi mobil dari merk terkenal maupun yang telah tidak layak dikendarai.

Lantas di depan kulihat panorama lain lagi. Pedagang kaki lima duduk lesu menanti pelangannya.
Krisis yang menempa bikin beberapa orang hati-hati lakukan pengeluaran, bahkan juga buat beli jajan pasar. Meskipun tidak seseorang yang menghampirinya, akan tetapi dia terus semangat menegur beberapa orang yang melalui serta pada akhirnya ada lumayan satu konsumen yang menuju arahnya.

Sepintas kulihat orang itu kok serupa sekali dengan Ricky. Kugosok-gosok mataku, menyakinkan pandanganku. Kutepikan mobilku, lantas saya berhenti di pinggir jalan itu. Dengan 1/2 lari, saya menguber sosok itu.

Ah…kendaraan sore ini sangat banyak, hingga bikin saya kesusahan buat menyeberang jalan ini. Namun pada akhirnya terkejar lumayan, dengan nafas tersengal-sengal, kujamah bahunya.

“Ky! ” seruku mendadak, hingga membuatnya terperanjat.

“Anda siapa? ” bertanya Ricky pura-pura tidak mengenalku.

“Ky. Sekalipun anda jadi gembel, saya bakal terus menggenalmu. ” jelasku mendenggus jengkel.

“Sudahlah, Sophia, janganlah bikin saya terluka lagi. ” tukasnya demikian sinis seraya beranjak pergi.

“Ky…Ky…knapa anda tidak pernah ingin dengarkan penjelasanku! ” teriakku sekeras-kerasnya. Akan tetapi bayangan Ricky makin menjauh serta pada akhirnya tidak terlihat.

Ricky, Tio serta saya yaitu teman dekat karib dari kecil. Sesudah tumbuh besar, saya terus mengganggap Ricky yaitu teman dekat terbaikku, namun Ricky mempunyai rasa tidak sama dari persahabatan kami. Yang saya cintai yaitu Tio. Ini yang bikin Ricky menjauhiku. Namun yang Tio cintai bukanlah saya, namun Sany, rekan sekelasnya.

Cinta, susah di tebak kapan serta dimana berlabuh!

Beberapa orang tidak dapat terima, bila cintanya tidak diterima, namun tidakkah cinta tidak mungkin saja dipaksa?

Tidak memperoleh cinta Tio, tidak membuatku menjauh darinya, namun saya bakal terus jadi teman dekat sebaiknya. Meskipun ada sedikit rasa tak senang, terkadang rasa cemburu menganggu hati kecilku, waktu kutahu buat pertama kali, orang yang Tio cintai yaitu orang lain.

Saya mesti dapat terima keputusannya, meskipun merasa berat. Tidakkah, kebahagian kita yaitu lihat orang yang kita cintai hidup berbahagia, baik berbarengan kita atau tak?

Namun tak dengan Ricky, dia makin pilih, meninggalkanku, mengakhiri persahabatan manis kami. Pergi serta saya tidak pernah tahu beritanya. Namun apa pun yang berlangsung, saya bakal senantiasa mengharapkan satu waktu kami bakal dipertemukan lagi.

Lantaran bagiku, cinta serta persahabatan yaitu dua ikatan yang sama. Ikatan yang tidak satupun bikin saya dapat pilih salah satunya.
Telah satu minggu, sehari-hari, saya datang kepersimpangan ini. Mengharapkan dapat lihat sosok Ricky melalui di sekitar sini lagi. Namun, Ricky hilang seperti ditelan bumi. Saya hampir putus harapan.

Saya telah lelah menanti, pada akhirnya saya bangun serta mau beranjak pergi. Knapa mendadak, indera keenamku, memberiku insting, bila Ricky ada di sekitarku.

Kubalikan kepala, kulihat sosok Ricky 1/2 lari menyeberang jalan di belakang posisiku. Saya lari menggejar sosok itu. Kuikuti dia dari belakang. Saya pingin tahu di mana dia ada saat ini.

Pada akhirnya kulihat Ricky, masuk ke suatu gang kecil, kuikuti selalu, hingga pada akhirnya dia masuk ke suatu rumah yang sangatlah simpel.

“Knapa Ricky makin pilih hidup di sini, dari pada dirumah megah orangtuanya? ”

”Knapa dia, tinggalkan kehidupannya, yang didambakan beberapa orang? ”

”Knapa seluruhnya ini dia kerjakan? ”

“Knapa? ”

Beberapa pertanyaan yang mendadak nampak di kepalaku.

Saya membulatkan tekad memencet bel di depan tempat tinggalnya itu.

“Siapa? ” terdengar nada dari balik pintu.

Saya diam, tidak berikan jawaban. Sesudah sebagian waktu saya saksikan Ricky pelan-pelan buka pintu. Terlihat keterkejutannya waktu melihatku, ada di depannya.

“Ky…boleh saya masuk? ” tanyaku hati-hati.

“Maukah anda memberi sahabatmu ini, satu gelas air putih. ” ujarku lagi.

Tanpa ada bicara, Ricky mengisyaratkan tangannya mempersilahkan saya masuk. Saya masuk keruangan tamu. Saya terpana, kulihat rumah yang teratur rapi. Rumah kecil serta simpel ini ditatanya demikian rapi, demikian adem. Kulihat serangkai bunga matahari plastik terpajang di pojok ruang itu.

“Ricky, anda tidak pernah lupa, saya yaitu penggagum bunga -bunga matahari. ” gumanku.

Serta suatu akuarium yang di penuhi ikan berwarna-warni, rumput-rumput dari plastik serta karang-karang di dalamnya. Ricky tahu benar saya penggagum keindahan pantai serta laut. Meskipun beberapa hal ini dulunya, setahuku, anda tidak menyenanginya. Kulihat lumayan banyak photo persahabatan kami yang di bingkainya dalam bingkai kayu yang sangatlah indah, terpajang di dinding ruangan tamu ini.

Bulir-bulir air mataku, perlahan mulai tidak dapat saya bendung. Saya betul-betul terharu dengan seluruhnya yang Ricky kerjakan. Demikian besar cinta Ricky buatku. Kupeluk dia, yang saya sendiri tidak tahu, apakah pelukan ini yaitu pelukkan seseorang teman dekat maupun telah beralih jadi pelukan yang tidak sama?

Ricky kaget, akan tetapi pada akhirnya dia membalas pelukanku, serta memelukku makin erat lagi, seolah-olah mau menumpahkan semua rindu yang telah hampir tidak terbendung dalam hatinya.

Kami menggunakan sore ini dengan sharing narasi, pengalaman kami semasing sepanjang perpisahan yang hampir 2 th. lamanya serta pada akhirnya Ricky mengajakku makan, ke suatu restoran kecil yang kerap dikunjunginya seseorang diri, di dekat tempat tinggalnya. Terdengar alunan tembang-tembang romatis, situasi hening, bikin kami terbuai dalam hangatnya situasi malam itu.

Saat ini Ricky telah tahu, Tio telah berbarengan Sany. Kami saat ini jadi 4 sekawan. Sany lumayan sudah jadi anggota genk kami.

Nyatanya sesudah saya mengenalnya makin lama, Sany yaitu sosok yang sangatlah baik hati, mengasyikkan, ramah serta perduli dengan teman dekat. Ah…menyesal saya tidak mengenalinya makin dalam mulai sejak dahulu.

“Ky, biarlah seluruhnya jalan apa yang ada, mungkin saja cinta bakal pelan-pelan nampak dari hatiku. ” ujarku satu hari, waktu Ricky mengungkit permasalahan ini lagi.

“Oke, saya bakal senantiasa menunggumu. Hingga kapapun. Lantaran tidak bakal ada seseorangpun yang dapat membuatku jatuh cinta. Cuma anda yang dapat bikin saya damai, tenang serta bahagia. ” tuturnya panjang lebar

Saat ini saya mempunyai tiga orang teman dekat baik. Tidak bakal ada lagi hari-hariku yang kulalui dengan kesendirian, kesepian serta kerinduan.

Hampir tiap-tiap akhir minggu, kami menggunakan saat berbarengan, ke pantai, ke puncak maupun cuma berkaroke dirumah simpel Ricky. Hidup dengan tali persahabatan yang hangat, bikin hidup makin bermakna serta makin bahagia.

Saat jalan demikian cepat. Tiga th. telah berlalu. Kebaikan-kebaikan Ricky dapat bikin saya terasa perlu serta sukai bakal keberadaannya di sampingku. Rasa itu pelan-pelan tumbuh tanpa ada kusadari dalam hatiku.

Saya jatuh hati padanya sesudah lewat banyak momen. Cinta datang, dalam serta dengan kebersamaan.

Terlebih dengan sikap serta perbuatan yang ditunjukannya. Bikin saya terasa, tidak bakal ada cinta lelaki lain yang sedalam cinta Riky.

Saat ini Ricky tidak cuma kekasih yang paling saya cintai namun lumayan seseorang teman dekat sejati dalam hidupku.
Kembali Ke Daftar Cerpen

Cerpen Cinta 4 - Cinta Butuh Ruang

Yuli, saya sekolah disalah satu SMA swasta di Surabaya. Hari-hari yang ditempuh merasa tidak sama sesudah sebagian minggu waktu lalu saya putus dari pacar (sebut saja namanya Zebra. Bukanlah, bukanlah lantaran kulitnya belang-belang). Bagai remaja yang lain yang baru putus jalinan dengan pacar, sehari-harinya ku banyak di habiskan dengan kegalauan-kegalauan serta kegelisahan yang menempa perasaan ini.

Perlahan-lahan saya coba memungut serpihan sisa-sisa keceriaan hati yang sudah hancur serta mulai coba membenahi hidup kembali… Mengharapkan diri ini sembuh bagai yang lalu. Tersadar, buat dapat wujudkan itu seluruhnya saya butuh saat serta itu layak susah buat betul-betul menjauh dari bayang-bayang perihal dia.

Diri ini penuh dengan sinyal bertanya. Saya masih tetap tak tahu mengapa cinta yang awalannya manis itu mesti selesai dengan pahit serta selanjutnya itu yang bikin ku senantiasa meyakini bahwa tiap-tiap apa yang manis, pasti ujung-ujungnya pahit. Memanglah pesimis… Namun itu fakta yang ku rasakan.

Tidak cuma itu, saat ini saya jadi takut buat mengawali cinta yang baru, cuma lantaran ku tidak ingin bikin argumen putus cinta satu waktu kelak.

Perasaan takut bakal cinta yang harusnya indah, beralih menyedihkan waktu cinta tersebut perlahan-lahan menuntut diri ini buat beralih jadi orang lain supaya bisa terus di cintai. Kerapkali saat matahari sudah terlelap dalam tidur, sinar bln. yang ganti terangnya serta bintang-bintang yang temani dinginnya malam disaat diri ini susah buat terlelap dalam pejaman mata, hati ini selalu pikirkan serta merenungkan apa yang telah berlangsung. Mungkin saja perasaan itu yang bikin kepala ini pusing.

Jujur, sesungguhnya saya masih tetap sayang dengannya. Sakit terasa apabila mesti meniadakan seluruhnya ingatan perihal dia. Ku tunjukkan sikap tegar, ku katakan bahwa “Aku dapat tanpanya! ” walau sebenarnya dilubuk hati ini saya belum dapat terima seluruhnya itu.

Tak gampang melupakan satu jalinan yang telah 2 th. lamanya kita lakoni berbarengan serta pada akhirnya mesti selesai bagai ini. Melupakan itu seluruhnya tak mungkin saja bisa singkatnya. Ingatan ku kembali saat dia makin mementingkan rekan-temannya dari pada saya serta saya terlampau mementingkan hidup dia dari pada hidup ku sendiri. Saya tidak suka seluruhnya itu!

Namun saya makin tidak suka dengan perasaan ku yang saat ini, lantaran sewaktu hati ini hancur berkeping-keping, pecah jadi serpihan-serpihan hati yang tidak berdaya, malah ada seorang yang saya rasa dia yaitu obat penawar untuk kepingan hati ku. Sebut saja dia si Kunyit (Bukanlah, bukanlah lantaran kulitnya warna kuning) dia teman satu kelas ku, dia lumayan baru putus dengan pacarnya ketika itu, sebut saja namanya Cici (Bukanlah, dia tidak jualan handphone kok). Saya, Kunyit serta Cici itu keduanya sama rekan satu kelas.

Saya tidak menganggap malah cuma si Kunyit yang senantiasa temaniku dikeheningan malam, senantiasa ada sewaktu ku sedih, jadi penghibur walaupun cuma dalam suatu pesan singkat.

Malam itu dalam suatu pesan singkat..
Saya : “Kok saya jadi inget film Kambing Jantan ya?
Kunyit : “Kenapa memang? ”
Saya : “Aku inget si Kebo katakan : Hebat ya, walau kita jauh namun kita dapat simak bln. yang sama. Namun mengapa mereka dapat putus ya?? ”
Kunyit : “Yaaa.. alesannya lantaran mereka lain jarak gitu.. ”
Saya : “Katanya ada bln. yang meskipun jarak terpisah mereka masih tetap dapat saksikan benda yang sama. Atau mungkin saja putusnya dimusim ujan kali ya? Bln. kan tidak ada.
Kunyit : “Itu hanya filosofinya saja yang salah! ”
Saya : “Tapi jika saya jadi pacarnya si Kambing, saya ingin katakan : Hebat ya, walau kita jauh, tidak perduli ujan tidak perduli bln. jatuh, namun saya senantiasa terasa dekat sama anda!? ”
Kunyit : “Hahaha, iya kelak saya kirim mensyen ke orangnya”

Dalam tiap-tiap keheningan malam, saya rasakan ada yang tidak sama setiap saat terima pesan singkat dari si Kunyit. Saya tidak tau mengapa saat itu dapat senyum-seyum sendiri setiap saat ku baca pesan singkat dari dia. Saya coba yakini hati ini bila itu seluruhnya cuma rasa suka ku, lantaran cuma dia yang perduli perihal saya waktu itu.

Mungkin saja ini seluruhnya dapat disebutkan suatu kebetulan lantaran kita berdua keduanya sama tengah alami putus cinta. Saya terasa bila saya memerlukan dia. Namun bukanlah bermakna saya mempunyai kemauan buat melampiaskan tiap-tiap kesepian ku ini dengan dia.

Di sekolah, saat itu saya katakan sama Kunyit jika saya perlu account Facebook baru, lantaran account punya ku yang lama di ambil alih oleh si Zebra.
Saya : “Nyit, anda dapat bikinin saya account Facebook tidak? ”
Kunyit : “Ooo.. mudah. Mengapa sama account anda yang lama? ”
Saya : “Akun Facebook ku passwordnya ditukar sama si Zebra”
Kunyit : “Jadi yang sukai on itu bukanlah anda??! ”

Kunyit kaget bila nyatanya account Facebook ku di ambil alih sama si Zebra.

Malam itu bagai umum dia isi keheningan malam ku..
Kunyit : “Emang anda pacaran hingga ngasih tau password account Facebook semua??? ”
Saya : “Iya, saat itu saya hanya takut bila dia tidak yakin sama aku”
Kunyit : “Pacarankan lumayan perlu privacy. Bila saya sendiri masih tetap heran mengapa yang pacaran mesti ikhlas ngasih password account Facebook nya, twitter, Path serta lainnya”

Dari pengucapan si Kunyit saya mulai tahu bila orang pacaran itu lumayan perlu privacy. Saya tersadar, pacaranku dahulu itu terlampau ketat dengan ketentuan si Zebra. Saya terasa bila cinta ku dahulu telah tidak mematuhi hak serta keharusan, yakni hak privacy ku serta keharusan ku juga sebagai manusia normal..

 Makin saya dekat dengan si Kunyit, senantiasa ada pelajaran yang bisa ku ambillah dari tiap-tiap pengucapan dia. Saya terasa suka setiap saat bercerita dengannya dia, dia senantiasa jadi pendengar yang baik.

Sewaktu rasa adem ini sudah ada serta perasaan sukai yang mulai berkembang, saya selalu coba serta yakini bahwa itu seluruhnya bukanlah perasaan apa-apa, cuma perasaan sukai serta tidak makin.

Saya yang jomblo ini mungkin saja belum seutuhnya dapat move on dari si Zebra serta saya lumayan tau bila si Kunyit lumayan baru putus dari pacarnya, Cici. Cici yang lumayan rekan satu kelas ku. Cici orang yang baik, dia pribadi yang pendiam saat tengah ada di kelas, namun belakangan ini Cici berlaku tidak sama dengan ku, mungkin saja Cici tau bila saya belakangan ini tengah dekat dengan si Kunyit.

Saya pernah dengar berita bila Cici pernah membaca pembicaraan pesan singkat ku dengan si Kunyit. Saya mulai berspekulasi bahwa Cici geram serta kecewa dengan itu seluruhnya. Memanglah Cici tak pernah memberikan rasa kekecewaannya pada ku, namun saya tau bahwa dia berupaya menutupi perasaan itu seluruhnya. Cici hampir tak pernah tersenyum apabila kita tengah berpasasan di kelas ataupun di jalan. Saya terasa jika Cici betul-betul kecewa pada ku.

Mulai sejak waktu itu saya mulai melindungi jarak dari si Kunyit. Saya takut bila makin dekat dengan si Kunyit, perasaan ini selalu tumbuh serta menjadi-jadi. Itu yang senantiasa jadi mimpi jelek ku, sesudah putus dari si Zebra. Nyatanya ada hal yang makin membingungkan daripada mengambil keputusan jalinan suatu ikatan pacaran.

Imajinasi ku melayang tinggi, memikirkan bagaimanakah jadinya bila saya mengungkap perasaan ini pada si Kunyit, selalu bagaimanakah respon rekan-rekan bila mereka tau?, serta yang pasti Cici bakal geram banget serta katakan bila saya pengkhianat.

Sewaktu posisi ku demikian susah serta serba salah, saya memikirkan bagaimanakah jadinya bila ku ralat pengucapan perasaan ku tadi serta jadi demikian sebaliknya perlahan-lahan menjauh dari si Kunyit serta yang saya meyakini si Kunyit bakal nyusul katakan bila saya memberi suatu harapan palsu

Gue ngebayangin..
Gue : “Nyit, saya sukai sama kamu”
Kunyit : “Kamu serius? ”
Cici : (datang dengan mukanya serem) “Dasar pengkhianat! ” (nunjuk saya)
Gue : “Ehh nyit, eng.. eng.. tidak jadi deh sukanya.. ”
Kunyit : “Apaan sih? PHP banget.. ”
Gue : (dalam hati) “Aku pengkhianat? Saya PHP? ”

Saya mulai parno. Saya merenung sebentar, mengapa mesti si Kunyit yang datang sewaktu saya baru putus dari si Zebra? Mengapa lumayan saya mesti sukai sama si Kunyit? Mengapa lumayan saya mesti menjauh? Kan saya cuma sukai?

Malam kembali datang berbarengan kegelisahan hati ini, saya tidak berani lagi kontakan dengan si Kunyit. Kunyit yang senantiasa ada sewaktu saya sedih, saat ini saya mulai coba melakukan malam tanpa ada hadirnya si Kunyit.

Saya memikirkan serta merenungkan itu seluruhnya. Mungkin saja cinta itu perlu ruangan.. ruangan di mana didalamnya tidak ada seorang yang pernah sama-sama berkenaan.

Saya tidak tau mengapa yang awalannya berdasarkan ku manis itu ujung-ujungnya pasti pahit, sama bagai cinta ku yang dahulu awalannya manis mesti berbuntut menyakitkan serta saat ini berbarengan si Kunyit seluruhnya itu terulang lagi. Saya memikirkan mengapa ku sebodoh ini serta saya heran mengapa si Kunyit katakan bila saya memberi harapan palsu. Apakah salah sikap ku sampai kini?

Saat selalu berlalu. Saya telah tidak sering menghubungi si Kunyit. Hingga pada waktunya saya betul-betul menjauh darinya serta perlahan-lahan ku abaikan perasaan ini. Malam ku sepi tanpa ada si Kunyit.

Dering handphone berbunyi. Ku pikir si Kunyit kirim pesan secara singkat bagai malam-malam umumnya, namun tida… Saya kaget, sewaktu kesepian menempa diri mendadak ku temui si Zebra kirim pesan secara singkat yang menyampaikan apabila ia kangen saya serta masih tetap sayang saya. Si Zebra mulai beralih. Saat ini dia makin perhatian serta makin mementingkan saya hingga selanjutnya Zebra mengajak buat balikan serta tanpa ada pikir panjang ku terima dia. Waktu itu saya suka dapat balikan lagi dengan Zebra, namun disisi lain juga saya terasa bersalah dengan si Kunyit lantaran saya meninggalkannya tanpa ada pamit, walau sebenarnya si Kunyit yang senantiasa ada sewaktu ku sedih, sewaktu ku perlu.

Hari bertukar hari ku lewati kembali berbarengan dengan si Zebra. Pada saat waktu ku cobalah berikan berita pada si Kunyit perihal jalinan ku yang telah kembali baik dengan si Zebra. Kunyit merespon itu seluruhnya dengan baik serta saya ingin memanglah benar bagai itu.

Setiap waktu ku bersua dengan si Kunyit di sekolah, saya terasa bersalah, sangatlah bersalah. Mengharapkan dia dengar isi hati ku.

Hal yang senantiasa ku pikir bahwa cinta itu memanglah mesti mempunyai ruangan serta hati yang baru.
Sama bagai perasaan ku ke si Kunyit yang tidak mungkin saja ku ungkapin lantaran ada Cici dalam ruang yang keduanya sama ku serta Kunyit menempati.

Saat ini saya serta si Kunyit sama-sama melindungi perasaan semasing. Rasa kekecewa si Kunyit serta rasa bersalah ku itu saat ini perlahan-lahan mulai kita abaikan serta berasumsi pada saya serta si Kunyit itu seakan tidak pernah berlangsung apa-apa.
Kembali Ke Daftar Cerpen

Cerpen Cinta 5 - Pria Bernama Jio

Tak terjatuh. Air itu menggantung di pelupuk. Bagai rasa sesal yang tertumpuk. Bintik air mulai membasahi baju birunya. Ujung dasinya ia gulung lalu dimasukkannya ke kantung baju, bagai malas buka dasi itu sekalipun. Tidak mau kebasahan, namun melindunginya juga 1/2 hati.

Ada yang istimewa dengan dasi hitam itu.

Seakan tidak takut pada rintik hujan, pria itu sekalipun tidak mempercepat langkah kakinya. Tidak ada kenaikan volume nada dari pantofel yang beradu dengan trotoar. Sesekali ia menengok ke kiri. Toko serta kedai satu persatu ia lalui.

Kesempatan ini dia meluruskan tangannya ke depan, cuma buat menyingsingkan lengan bajunya, lantas membengkokkan sikunya sampai pergelangan tangan mendekati dada. Jarum jam di arloji hitamnya tunjukkan jam 5. 47 sore.

Telah dua blok pria itu jalan. Bahunya telah mengenai bahu orang lain tiga kali, hampir bertabrakan melawan lalu-lalangnya orang.

Pria itu memperlambat langkahnya, menengadah ke langit. Akan tetapi saat ini tidak ada lagi titik air menjatuhi berwajah. Hujan telah reda. Ia bertumpu di dinding suatu toko roti. Bagai banyak yang dipikirkan, dahinya mengerut. Bola matanya memandang ke arah pojok kiri kelopaknya.

Tangannya mengepal. Ia memukul tembok. Jengkel. Sekalian terperanjat. Ada sesosok pria terduduk satu 1/2 mtr. di kiri pria itu. Seseorang pria yang lain. Sesosok pria tidak berumah.

Gelandangan itu memegang sepotong kardus bertuliskan “uang, atau suatu senyuman”.

Mata sang pria memincing. Akan tetapi lalu ia tersenyum. Jalan perlahan-lahan mendekati si gelandangan, merogoh kantung celana bahannya, lalu membungkuk. Diberikannya sebagian keping koin kembalian beli kopi tadi sepulangnya bekerja. Pria itu tersenyum sekali lagi.

Gelandangan itu ajukan pertanyaan, “Hendak ke mana, Nak? ”

“Entahlah. Saya juga tidak tahu. ”

“Mengapa jalan bila tidak tahu maksud? ”

“Aku mau bersua seorang. ”

Gelandangan itu memandang muka sang pria makin dalam dari mulanya, saat sebelum lalu mengangguk perlahan-lahan menyeka janggut putihnya yang lebat. “Mengapa anda memberi seluruhnya? ”

“Aku cuma memberikanmu koin, ” jawab sang pria sedikit terheran, “bahkan ini masih tetap ada bekas koin di sakuku. ”

“Bukan. Saya cuma meminta duit, atau suatu senyuman. ”

“Ah, iya. Bila dapat berikan seluruhnya, kenapa mesti salah satu? ”

Gelandangan itu tersenyum. “Kejarlah, Nak. Janganlah setengah-setengah. ”

Sang pria terdiam. Matanya terbuka. Ada degupan kencang di dadanya seraya ia berdiri kembali. Saat itu juga ia meneruskan langkahnya. Mempercepatnya. Bukanlah. Lari!

Sisi bawah bajunya mulai jadi kering, cuma tinggal sisi bahunya saja yang basah. Pria itu berhenti di satu persimpangan. Pas di depan suatu kios majalah. Sang pria memandang ke arah tiang lampu jalan raya. Bibirnya terbuka membaca perlahan-lahan tulisan dari spidol merah di tiang itu.

“Jio. “

Ia berbalik serta melihat ke arah kios majalah. Sontak pikiran pria itu terlempar jauh ke belakang. Tergambar sosok wanita memiliki rambut panjang, tidak terlampau lurus, sedikit ikal. Hidungnya tidak mancung, jadi condong besar. Pipinya juga mengingatkan pria itu perihal bakpao yang kerap dijadikannya bahan ejekan buat sang wanita. Pria itu memanggilnya Jio.

Pria itu ingat benar wanita yang ada di bayangannya saat ini kerap mengeluhkan dianya gendut. Wanita yang kerap terasa gendut itu sudah bikin sang pria kurus lantaran kerap pikirkannya.

24 menit telah sang pria berdiri di persimpangan jalan itu. Sepanjang itu, ia menancapkan tatapan ke kios majalah. Menanti. Pria itu sesekali lihat arlojinya. Kesempatan ini arlojinya tunjukkan jam 6. 57 malam.

“Harusnya telah datang, ” gumamnya.

Sampai Jio pada akhirnya tiba di kios majalah. Bicara pada penjaganya, menyerahkan beberapa duit, serta mengambil majalah bergambar rumah di cover-nya.

Degup di dada sang pria makin kencang. Ada lagi info kecil yang menghidupkan memori. Jio sukai hal berbau interior. Pria itu mendadak ingat pernah membelikan Jio kursi unik berupa segitiga berwarna hijau juga sebagai hadiah lagi tahunnya.

Dengan keberanian paling besar yang sampai kini ia kumpulkan, pria itu mengambil langkah hampiri Jio. Berhenti serta berdiri terus dihadapannya. Jio terperanjat, lalu lihat dari kaki sampai kepala pria itu.

“Jio, saya hanya mau mohon maaf. ”

“Nggak ada lagi …”

Belum usai Jio bicara, pria itu menyambarnya. “Seumur hidupku saya tidak dapat hidup bagai ini. Hidup yang tanpamu di dalamnya. ”

Jio terhenyak. Pipinya basah. “Aku yang harusnya mohon maaf. ”

Jio mengambil langkah ke arah kanan pria itu. Cepat.

Belum pernah pria itu menguber, Jio telah disambut seseorang pria dengan raut muka agak kebingungan. Bhs bibirnya tunjukkan, “Kamu mengapa? ” ajukan pertanyaan pada Jio, lalu melayangkan suatu pelukan di pundak.

Pria itu bergeming. Matanya memandang nanar. Jadi tambah lagi perbendaharaan sekuen pahit di hatinya. Yang dapat ia kerjakan hanya merogoh bekas koin di kantung celananya, lalu memandanginya. “Mengapa saat itu tidak kuberikan seutuhnya? ”

Pria itu menyesal lantaran tidak senantiasa ada. Ia menyesal lantaran tidak memberi seluruhnya yang dipunya. Ia longgarkan simpul dasi hitam di kerah bajunya dengan tangan kiri. Menggoyang-goyangkannya sedikit, lalu melepasnya. Tidak membuangnya, namun menggenggamnya. Bagai hatinya masih tetap mau menggenggam, namun mesti melepas.

Saat ini, dahinya cuma dapat mengerut, menahan air mata buat tidak jatuh. Cuma tidak mau terlihat cengeng.

Akan tetapi ada yang tidak umum dari alis tebalnya yang mengernyit. Suatu petir menghunjam denyut jantungnya berbentuk rasa sakit. Sakit mengagumkan, yang seluruhnya bermuara pada satu frasa. Rasa sesal.
Kembali Ke Daftar Cerpen

Sebuah karangan akan tercipta dengan sebuah imajinasi seseorang ataupun dengan pengalaman yang pernah mereka jalani dalam kehidupan ini. Semoga cerpen cinta dalam hati terbaru diatas dapat menjadi informasi yang berharga bagi kalian dan dapat dijadikan bahan referensi, bahan bacaan ataupun senjata yang ampuh untuk meluluhkan pasangan anda.

Advertisement